Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, July 21, 2008

Rekomendasi NOMAT

Kalau Anda belum nonton, coba pilih The Dark Knight untuk tontonan malam ini. Saya nonton Sabtu kemarin di PI Mall 2. Buat saya, film ini justru menonjol karena aksi Joker (Heath Ledger). Sinis, tengil, cerdik, dan Heath begitu mantap menjiwai peran. Film aksi Hollywood ini benar-benar memanjakan imajinasi, dan sanggup melontarkan kita ke dalam kegelisahan masyarakat dan konflik di Gotham City, sambil mengagumi pesona Bruce Wayne (Christian Bale) yang tampil bak James Bond. Workshop Batman yang spacious dan trendy dengan entrance hidrolik yang dan pencahayaan ruangan yang elegan, apartment yang memperkaya referensi mimpi, mobil dan motor yang canggih dan siap dihancurkan begitu saja ... semuanya ada.

Photobucket

Kalau anda sedang tak menginginkan kehebatan Hollywood, pilih Taken yang tayang di Blitz. Saya menyaksikannya Rabu lalu untuk membuktikan, kalau film ini sanggup mengungguli Angelina Jolie dalam Wanted. Dan saya setuju. Jalinan cerita yang kuat memikat, dan karakter Liam Neeson yang pas dalam film ini membuat aksi menegangkan ini wajib masuk dalam daftar rekomendasi. Ok, selamat nonton!

Photobucket

Photos via IMDb Continue >>

Saturday, July 12, 2008

Proposal of Essential Image

Een maand werken voor 1,3 iced lattes per dag
* Nog even voor wie wil weten hoe het is om in een islamitisch land naar Sex and the City the Movie te gaan: de censoren leken netjes te hebben geknipt - als er al blootscènes misten, hebben we dat niet gemerkt. Zinnen als ‘the guy had funky tasting spunk‘ kunnen hier ook gewoon. Enige verschil: de zaal lag elke keer in een deuk als er zoenende mannen in beeld waren.
Being a country with the biggest Moslem's population, is quite an image. But somehow it’s become a sort of responsibility. Many with concerns would do their best to save the nation’s integrity and moral standard. Eyes of the nation are on the movie industry, although the days of sensual, erotic, and bed-sizzling Indonesian movies that appeared in the late 80s and early 90s are over. Apparently, censoring movies, banning, even street demonstrating by certain religion or student association movement are all done in several cases. One would said it's annoying and wasting time. Changing the channel, or just get the next show will be the suggestion to mind. Let me quote Indonesian Dream's thought of movie banning case as an extra insight.
"I also find it very funny with the fact that overseas erotic movies can freely enter the mainstream media of Indonesia with ease, but a copy version with local taste is treated with fury. Doesn’t it defeat the purpose?"
Being said that Indonesian youths are already morally corrupted in every way, is such a moral tragedy. I am not a moralist, I think. Yet I have no objection to the idea of keeping moral standard, to save the integrity and moral of young Indonesians. Someone should do this. We are not talking about the older generation integrity and moral here anyway. Unfortunately I do not see this effort done essentially, structurally, and continuously. Having the censorship institution doing their job is indeed not enough. Clear guidance (rules) on public performances is important, for the audience and the entertainment workers itself. But obviously age restriction is not enough believed to protect the Nation’s youth. Or is it being common that people couldn’t judge things as it should be and react maturely? What so funny is that many who criticize did not watching the controversial movie yet. Silly but true.

I don’t know why not village elders or the religious leaders taking control of their congregation. Those could teach them for God’s sake, right? And moreover making sure if they are understood and passing the normal-behaviour-tendency-of reactions-test (is there any such things?). Yes, moral and integrity are values come from within. Ironically people are proud to show off values they believe rather than working their faith personally. It is more important to have an image, than to hold a real value. If it is just my naïve thought. Continue >>

Monday, July 07, 2008

Bingung Mencari Inspirasi?

Tak jarang di antara kita harus kebingungan, mencari ide dan inspirasi untuk banyak hal. Saya juga mengalaminya. Dari sekadar kebingungan mendapat ide tulisan, ide desain, ide foto, ide untuk memperoleh pemasukan baru, dan sebagainya. Tak salah koran Seputar Indonesia menggunakan clue ini untuk menggaet pembaca baru. Belajar dari kawan-kawan yang lebih dahulu menekuni dunia kreatif bisa jadi akan memberi masukan yang bermanfaat.

1. Ide ada dimana-mana.
Sanggupkah kita melihat dan menangkap ide? Konon kita akan sanggup menangkap ide bila kita menguasai, memahami apa yang kita kerjakan, memahami market yang digarap dan selanjutnya. Yang banyak disarankan adalah menggali ide dari keseharian kita. Misalnya photographer Edward Suhadi dalam kampanye iklannya di beberapa majalah tentang pernikahan menyarankan untuk melihat ide pemotretan dari deretan cover CD, juga berbagai sampul buku. Bagaimanapun, kita perlu banyak berlatih dan belajar dari berbagai hal dan sumber.

2. Bagaimana menerapkannya?
Dalam dunia kerja dibutuhkan adanya kesepakatan, kesamaan persepsi dan ide, sebelum akhirnya kita dapat mewujudkan hasil yang sesuai dengan rancangan awal. Bila ide ini digunakan secara perseorangan, maka penerapan memerlukan acuan, evaluasi dari pihak lain, revisi demi kesempuranaan hasil dsb. Teknik senada bisa saja dilakukan, tetapi pemilihan materi dan kesempurnaan pengerjaan antara lain, membuat nilai suatu hasil berbeda. Pengenalan materi juga sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal. Untuk itu tak ada salahnya kita berjalan-jalan ke pasar, ke galeri, berkunjung ke supplier maupun tempat-tempat lain yang memberikan kontribusi tertentu dalam karya yang akan kita hasilkan. Malah bisa juga mengunjungi atau menyaksikan hal-hal yang sama sekali tak berhubungan dengan bidang karya kita. Membuka-buka buku referensi juga dapat dilakukan, misalnya buku praktis tentang anyaman.

Photobucket
{Box storage anyaman berbahan plastik yang tampak chic dan modern, koleksi The Storage Shoppe, Plaza Indonesia}

3. Mewujudkan hasil akhir yang bernilai?
Ide dan rancangan kerja sudah didapat, dan tujuan telah ditetapkan. Faktor ketahanan (endurance) ternyata juga diperlukan untuk menuntaskan suatu ide menjadi karya nyata. Banyak masalah akan dihadapi saat pelaksanaan mencapai tujuan. Yang diperlukan adalah kesanggupan semua pihak yang terlibat untuk tetap melihat dan berfokus pada tujuan, meskipun banyak tantangan dan hambatan dihadapi. Segala solusi bisa diusahakan, berdasarkan kesamaan tujuan, dan bermotifkan kebaikan.

Photobucket
{Tas anyaman berbahan kulit Bottega Veneta Barcelona Cabat, senilai USD 7250. Photo via Bottega Veneta}

4. Keberhasilan adalah mempertahankan kualitas (konsistensi) dan inovasi.
Bisa menuntaskan suatu karya belumlah terbilang sebagai keberhasilan (yang sempurna). Bila seseorang atau sekelompok orang secara berkesinambungan bisa menghasilkan karya yang baik dan berkualitas, barulah bisa dikatakan berhasil. Dan keberhasilan ini harus terus dipertahankan dengan menghasilkan inovasi yang terus bergerak ke arah lebih maju lagi. Bila tidak ada kemajuan lagi, kita akan terlibas orang lain yang terus maju, atau mungkin berarti kita sudah mati.

Masalahnya, banyak orang berbakat, orang kreatif, dan orang pintar, yang bisa berbuat tanpa banyak berpikir, layaknya orang menghirup udara dan menarik nafas. Itulah dalih yang digunakan pembelajar seperti saya (dan mungkin juga anda). Walhasil, kunci yang terakhir terletak pada positive response kita dalam menanggapi hal-hal yang kita temui di lapangan. Good luck! Continue >>

Wednesday, July 02, 2008

Mengunjungi Museum

Kunjungan ke tempat bersejarah rupanya sedang kembali digalakkan. Setidaknya ada usaha ke sana yang terbaca di Kompas. Meski tidak mahal, kunjungan ke museum katakanlah, bukan merupakan kegiatan populer masyarakat umum. Tetapi untuk keseimbangan hidup, dan mengapresiasi perjalanan kehidupan pendahulu toh boleh juga. Bukankah banyak di antara kita sangat menikmati kunjungan ke tempat-tempat wisata bersejarah di luar negeri? Tetapi yang agak mengherankan, tak jarang yang mengaku tidak menikmati kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Indonesia.

Photobucket
{Grand Palace di Bangkok}

Saat mengajak kawan dari Banyuwangi mengunjungi Museum Sejarah Jakarta atau juga disebut Museum Fatahillah, Sabtu belum lama berselang, ada beberapa pengunjung yang tampak melihat-lihat di koridor museum. Dua hingga tiga keluarga dengan anak-anak, dua kelompok siswa SD (mungkin kelas tiga atau empat, karena secara physical masih kecil tetapi sudah sibuk mencatat ini dan itu) dengan guru-guru pendamping. Di pelataran Fatahillah tampak lebih banyak kerumunan. Ada gerombolan photographer yang memencar ke beberapa sudut, lalu juga sejumlah siswa kursus yang sedang praktek menggambar berlembar-lembar (bahkan hingga 50 gambar) di pelataran Cafe Batavia. Sementara di lorong jalan sebelah Museum Wayang, dan di depan bangunan bekas Cafe tampak digunakan beberapa pasangan untuk berfoto.

Kunjungan ke tempat bersejarah buat sebagian orang memang bukan hal yang ringan dan gampang dinikmati. Itu pula sebabnya saya cenderung kurang setuju bila murid-murid harus dicekoki dengan detil data-data sejarah, dihantui keharusan menghafal dll. Bukankah essensinya adalah anak memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam suatu hal? Sehingga ketika dewasa kelak, anak bisa meneladani kepatriotan sang pahlawan misalnya. Mengakulah, apa yang anda ingat dari kepahlawanan Diponegoro? Beberapa dari anda mungkin akan mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ingat, tapi buat beberapa siswa, dengan gampang akan menyebutkan tanggal kelahiran atau wafatnya Jenderal Sudirman. Maksudnya, mana yang lebih penting: hafal detil data sejarah (jelas biar dapet nilai ulangan bagus dong!), atau mengerti dan memahami nilai-nilai kepahlawanan yang sesungguhnya? Itu sebabnya, (hikmah fajarnya nih) mari ajak dan biarkan orang-orang menikmati museum (atau tempat bersejarah manapun) tanpa harus punya beban.

• Meski bukan anggota komunitas atau pemerhati sejarah, saya cukup menikmati kunjungan di tempat bersejarah. Yang dilakukan di sana tentu saja melihat-lihat koleksi-koleksi yang disajikan. Antara lain dengan menghargai keunikan, memperhatikan fungsi-fungsinya, membayangkan kehidupan di masa lalu, serta merefleksikan ke masa sekarang. Sayang, kadang-kadang benda-benda tersebut tidak diberi keterangan, atau keterangannya hilang/rusak. Tak jarang juga dijumpai, koleksi yang begitu berdebu, bahkan kaca etalage tampak kusam. Dalam kunjungan ke Museum Keramik, malah sempat saya menyaksikan petugas yang membersihkan, tapi asal-asalan (lahhh yang penting masih dibersihin 'kan ya?).

• Dalam kunjungan wisata seperti ini saya juga memotret beberapa koleksi yang unik, bila memang tidak dilarang. Bentuk arsitektur bangunan juga menarik untuk difoto. Selain itu mengabadikan teman-teman yang turut serta. Anda maklum 'kan, menyaksikan orang-orang berfoto dengan aneka gaya di tempat-tempat seperti ini?

Photobucket
{Koleksi di Museum Nasional (Museum Gajah), berupa gagang cermin berukir dengan motif Hindu}

• Biasanya kalau sempat, sebelum melakukan kunjungan, saya akan membaca-baca atau mencari informasi tentang hal-hal yang akan dikunjungi. Harapannya adalah bisa tahu hal mana yang perlu diberi perhatian lebih atau jangan sampai terlewatkan. Betul, sayangnya kadang-kadang website khusus mereka tidak memberikan informasi yang lengkap dan memadahi.

• Kalau sudah begitu, biasanya guide jadi pilihan. Tapi biasanya tergantung kesepakatan rombongan. Bukan rahasia lagi kalau guide atau pemandu wisata sering tidak dipedulikan oleh rombongan orang Indonesia. Padahal memakai jasa guide itu memerlukan biaya tambahan yang tidak sedikit. Bandingkan dengan harga karcis masuk yang hanya Rp 2ribu, dengan tips guide katakanlah sekitar Rp 30ribu.

• Untuk melengkapi kunjungan, sempatkan melongok toko cenderamata terdekat atau tempat jajanan yang menjual penganan dengan tema yang sama. Anda tidak diwajibkan membeli sesuatu di sini. Tetapi setidaknya, di sini akan memberi gambaran umum, kenangan apa yang biasa dimiliki atau diingini pengunjung. Continue >>

Friday, June 27, 2008

Dino Disappointment

Ingin mengetahui secara lebih dekat mahkluk raksasa dinosaurus yang pernah tampil di film trilogi Jurassic Park? Anda tak perlu bingung mencarinya. Soalnya, 31 dinosaurus Jurassic Park yang didatangkan langsung dari Universal Studios di Amerika Serikat (8 dari Jepang) itu singgah ke Indonesia. Robot-robot raksasa yang telah punah itu hadir di Plaza Tenggara Senayan mulai 21 Juni hingga 20 Juli mendatang.

Photobucket

Namun sebaiknya jangan terlalu berharap banyak dari Dino Summer Holiday. Ketika berkunjung hari Minggu lalu, saya menyayangkan beberapa detil penyelenggaraan (mari tak perlu sungkan berdalih, manusia tiada yang sempurna). Beberapa hal tersebut antara lain adalah: penataan di lokasi dino yang kurang rapi dan pencahayaan yang bisa lebih baik. Detil AC yang kokoh mencuri perhatian, perangkat mekanik yang mnyertai robot juga kurang indah tersamarkan. Harapan untuk mendapati suasana masa lalu yang gelap dramatis jadi agak terganggu. Apalagi ditunjang para presenter yang terasa kurang berkarakter dan luwes dalam memperkenalkan dino-dino itu. Heran, apakah tidak ada standarisasi penyajian, atau hanya saya yang berharap berlebihan?

Photobucket

Lalu penjagaan kebersihan di lokasi, terutama di area makan (bo, please deh, sampah is everywhere!). Walaupun ini juga berkenaan dengan mental para pengunjung yang membuang sampah sembarangan, tapi ada baiknya ini diantisipasi sejak awal. Entah kenapa saya juga merasa penataan booth dari pintu masuk menuju lokasi kandang dino juga terlalu jarang, sehingga kesannya kosong. Akibatnya (akibat?), floor covering carpet-nya jadi terlihat dikerjakan asal. Ketidak siapan lain adalah Simulator Dino juga belom beroperasi, karena dalam tempelan tulisan-tangan dinyatakan belum siap (mungkinkah ini harus dimaklumi, karena saya mengunjungi di hari kedua, pada tanggal 22/6?).

Beberapa detil lain yang juga patut dipertimbangkan sebelum mengajak putra-putri tercinta mungkin bisa dilihat di sini. Bila tanpa rabat, harga karcis masuk adalah Rp 150ribu. Bagaimanapun, setidaknya anak-anak punya pilihan acara liburan, dan Jakarta kita semakin 'hidup'.

•Terima kasih foto-fotonya, Yunus. Continue >>
hit tracker
hit tracker