Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Thursday, August 14, 2008

Jalan-jalan ke FRANKFURT, The Gate to Europe

Photobucket

Frankfurt bukanlah kota turis. Tetapi saat pertama kali mengunjunginya, suasana dan lingkungannya begitu mengesankan, begitu berbeda dibanding kota-kota lain di Jerman. Kota ini adalah bukti nyata perjalanan sejarah, perpaduan antara masa lalu dan masa kini. Meskipun memiliki tingkat kejahatan cukup tinggi dibanding kota-kota di Jerman lainnya, Frankfurt selalu menempatkan diri dalam jajaran 10 kota terbaik untuk tinggal dan kota teraman di dunia.

Mulanya saya hanya menjadikan Frankfurt sebagai kota persinggahan liburan Eropa pertama, karena penerbangan ke Eropa yang saya pilih tidak memiliki perhentian di kota tujuan. Tetapi kemudian, Frankfurt menjadi kota pertama yang saya syukuri merupakan pengantar yang cukup menyenangkan untuk mengenal Eropa dan kekayaan sejarah masa silamnya.

Kunjungan saya mulai dari Römerberg, yaitu alun-alun atau lapangan utama di kota tua (Altstadt) Frankfurt. Lapangan ini memang kerap dijadikan titik awal perjalanan wisata dalam kota. Nama Römerberg berasal dari bangunan balai kota Frankfurt, yang disebut Römer. Balai kota ini dibangun antara abad 15 dan 18 dengan gaya arsitektur Gothic. Bangunan utamanya dikenal sebagai Zum Römer, yang berarti penghormatan kepada Romawi. Bila sempat melongok Kaisersaal, yaitu ruang bersejarah tempat penobatan Kaisar Romawi, anda akan menyaksikan foto-foto 52 raja-raja dan kaisar Jerman, dari Friedrich Barbarossa yang memerintah pada tahun 1152 hingga Franz II, yang berkuasa pada tahun 1806.

Lapangan ini hingga kini memang merupakan ruang terbuka yang kerap menjadi ajang aneka kegiatan kota. Semuanya berlangsung sejak abad ke-12, saat perdagangan besar-besaran dimulai di Römerberg. Bursa niaga ini menarik minat para pengunjung dan pedagang hingga dari Italia dan Perancis. Karena letaknya yang strategis, membuat kawasan ini jadi pilihan tempat utama penyelenggaraan berbagai pameran dan perayaan, termasuk perayaan penobatan Kaisar Romawi dulu.

Di sebelah timur lapangan, berseberangan dengan Römer, terdapat sederet bangunan rumah kayu yang dikenal dengan sebutan Ostzeile. Inilah rekonstruksi bangunan rumah-rumah khas Jerman abad ke 15-16, yang pernah luluh lantak oleh pemboman Inggris saat perang dunia ke-dua. Jadi, bangunan yang saya saksikan adalah rekonstruksi yang baru selesai dibangun pada tahun 1983.

Sementara di sebelah selatan Römerberg terdapat Historisches Museum yang menyuguhkan rekaman perjalanan sejarah kota Frankfurt. Di sini saya sempat menyaksikan maket kota Frankfut jaman pertengahan, sebelum diporak-porandakan oleh perang. Lalu di depan Historisches Museum terdapat Alte Nikolaikirche, gereja gothic permulaan yang dibangun pada tahun 1290. Dulunya bangunan ini digunakan sebagai gereja pengadilan untuk kaisar hingga abad ke-15. Kalau kebetulan anda berada di area ini pukul 9:05, 12:05 dan 17:05, anda akan mendengar dentang rangkaian 35 lonceng yang ada di sini. Saya pun membayangkan suasana keriuhan jual beli yang ditingkah dengan dentang bel pertanda hari itu.

Lalu di tengah lapangan ini terdapat Gerechtigkeitsbrunnen atau air mancur keadilan yang dibangun pada tahun 1543. Di tengah-tengahnya berdiri patung Dewi Keadilan membawa timbangan keadilan, tetapi tanpa penutup mata seperti biasanya. Sebelum bergerak meninggalkan kawasan Römerberg, tak ada salahnya melongok tourist office, untuk mendapatkan peta wisata maupun berbagai brosur penawaran yang mungkin anda perlukan. Misalnya promo city guided tour maupun brosur café dan restauran yang beberapa desainnya cukup menarik.

Beberapa langkah dari Römerberg dapat dijumpai Paulskirche, atau gereja St. Paul, yang dibangun antara tahun 1789 dan 1833. Bangunan bergaya neo-klasik ini merupakan tempat cikal bakal demokrasi di Jerman, yaitu pada tahun 1848 digunakan sebagai pemilu nasional pertama parlemen Jerman, dan penentuan konstitusi jerman pertama yang merupakan bagian dasar randangan hukum Jerman modern. Kini di sini sering digelar berbagai pameran dan pertemuan akbar serta acara acara resmi lainnya.

Kunjungan berikutnya adalah ke Alte Oper, gedung pertunjukan opera Frankfurt yang diresmikan pada tanggal 20 Oktober 1880. Bangunan monumental karya arsitektur Berlin, Richard Lucae, ini kini hanya digunakan sebagai concert hall. Gedung setinggi 34 meter yang juga dikenal dengan jenjang anak tangganya yang anggun, atau imperial staircase-nya ini, termasuk gedung opera penting di Jerman. Banyak opera populer di jamannya ditampilkan pertama kali di sini, antara lain pementasan Carmina Burana oleh Carl Orff. Perlu anda tahu, rekonstruksi gedung Alte Oper setelah pemboman pada tahun 1944 tetap mempertahankan bentuk eksterior dan lobby aslinya. Tak heran bukan bila kini bangunan ini tetap tampak memukau, dan sangat menonjol di antara bangunan-bangunan modern di kawasan perbankan? Sesaat mengistirahatkan kaki, saya sempat minum di café-café yang ada di sini. Kalau anda mau, nikmati saja pemandangan dari café yang terdapat di lantai 3. Atau, bisa juga bersantai di air mancur yang berada tepat di depan bangunan, yang bertuliskan Dem Wahren, Schönen, Guten, atau yang berarti ‘yang benar, yang indah, yang baik’.

Bila anda cukup menikmati kunjungan ke museum, terutama lukisan, sempatkan mengunjungi Museum Seni Städel. Beberapa koleksinya dijamin Anda kenal, sekalipun Anda bukan penyuka lukisan. Mulai dari Rembrandt, Vermeer, Monet, Van Gogh, Cézanne, Matisse, Picasso dan Bacon. Tiga jam berkeliling rasanya belum puas. Saya bahkan tak sempat memberikan perhatian yang cukup pada setiap lukisan, karena keinginan untuk melihat banyak hal. Museum lain yang saya suka adalah Museum fur Moderne Kunst atau museum seni rupa modern. Bangunannya sendiri pun memang bentuk karya seni, yang dirancang oleh arsitek Austria, Hans Hollein. Selain pameran tetap, di museum ini juga terdapat pameran tambahan yang tak kalah menariknya. Anda juga diperbolehkan menggunakan kamera di sini.

Pemandangan Luar Ruang

Meskipun tidak seheboh bangunan di Asia misalnya, pemandangan kota Frankfurt memang cukup mengesankan. Bersih dan tampak rapi tertata. Saya memutuskan untuk mengunjungi Mainturm yaitu gedung tertinggi keempat di Frankfurt, yang ‘hanya’ setinggi 200 meter. Dengan 4,50 euro, saya bisa menyaksikan pemandangan kota Frankfurt, dan memotret pemandangan kota dari ketinggian. Di bawah skyscrapers, Frankfurt tampak seperti layaknya kota-kota di Jerman, dan paduan kontras antara bangunan-bangunan tua di Altstadt dengan konstruksi modern baja dan kaca yang mengkilap tampak menyeruak ke langit. Memberi aksen tersendiri untuk keindahan panorama kota. Dari Mainturm juga terlihat Europaturm atau disebut Ginnemer Spaschel (yang berarti Asparagus Ginnheim), yang terletak di Bockenheim. Bangunan setinggi 335 meter ini adalah bangunan menara pemancar televisi. Hanya saja kini Europaturm ditutup untuk khalayak umum.

Puas dengan pemandangan dari ketinggian, saya berjalan-jalan melintasi tepian sungai Main. Anda juga bisa menyaksikan keindahan panorama kota dari pinggiran sungai. Bagian yang cukup menarik untuk diperhatikan di sini adalah beberapa jembatan yang menjadi penghubung dua sisi sungai, sekaligus aksen keindahan kota. Salah satu jembatan yang terkenal dan paling berkarakter adalah Eiserner Steg atau jembatan besi. Jembatan yang selesai dibangun pada tahun 1869 ini menghubungkan pejalan kaki dari Renenturm di Altstadt, dengan kawasan Sachsenhausen yang populer dengan deretan bar dan restauran. Kabarnya, jembatan ini dimaknai sebagai perlambang hasrat manusia untuk melintasi sungai dan bertemu dengan manusia lain. Maksud yang indah dan mulia, bukan?

Mumpung berada di area Sachsenhausen, saya juga menyempatkan diri melewati rumah penulis kebanggan Jerman Johann Wolfgang Goethe, atau von Goethe. Ia lahir di Frankfurt pada tanggal 28 Agustus 1749. Saya juga sempat melalui tempat yang katanya terbaik untuk menikmati matahari di musim panas, yaitu Holzhausenpark. Sekalipun sesekali saya merasa dinginnya hembusan angin sekalipun di musim panas, saya tetap tidak tergoda untuk berlama-lama di taman ini. Yang pasti, taman ini tampak menonjol karena puri kecil Holzhausenschlossen yang dicat putih diantara hijaunya pepohonan yang menaungi.

Untuk pemandangan kota yang lebih seru, petugas di hotel menyarankan untuk memotret di kawasan Hauptwache. Benar saja, pemandangan kesibukan kota terlihat jelas di sini. Maklum, hampir semua jalur transportasi Frankfurt melintas di kawasan ini. Bahkan sekalipun tak mengenal namanya, banyak orang akan menemukan kawasan ini dengan sendirinya. Bangunan utama di sini adalah Hauptwache, yaitu bangunan bergaya baroque dari abad 18, yang dulunya merupakan kantor pertahanan, dan pernah pula dijadikan sebagai penjara dan kantor polisi. Buat saya, di sini merupakan pilihan tepat untuk untuk mengistirahatkan kaki dan melepas dahaga, setelah sepanjang siang berjalan.

Kalau anda memilih untuk menyalurkan hobby belanja, langsung saja siapkan dompet dan kartu kredit dari sini. Karena disini juga merupakan awal dari Zeil, kawasan perbelanjaan tersibuk di Frankfurt dan Jerman. Galeria Kaufhof department store yang legendaris juga terdapat di kawasan ini. Dari atap Zeilgalerie juga dapat disaksikan pemandangan kota, sambil memesan cemilan dan minuman, terutama bila bila anda mendapatkan kursi. Kalau tidak, bisa juga berjalan melintasi atap ke department store di sebelah, tempat café yang juga menyediakan beberapa bangku di luar ruang. Pemandangan panorama Frankfurt di sini paling menarik disaksikan pada pagi atau sore hari.

Yang juga tak boleh dilewatkan di Frankfurt tentu saja mengabadikan patung Hammering Man, yang merupakan simbol kota Frankfurt, dan lambang kerja keras. Patung setinggi 21 meter ini adalah karya seniman Amerika Jonathan Borofsky, dan di Frankfurt merupakan yang tertinggi dari patung serupa yang terdapat di berbagai kota-kota dunia, termasuk di New York, Los Angeles dan Seattle. Meski kabarnya sekarang sedang rusak dan tidak ‘memalu’ lagi, patung ini sebenarnya dirancang untuk terus memukul palu setiap hari, dari jam 7 pagi hingga jam 10 malam, dan hanya beristirahat di malam hari dan di hari buruh saja.

Frankfurt juga memiliki beberapa klub dugem yang menyemarakkan malam. Beberapa di antaranya hanya mematok 10 euro untuk dapat bersantai, bersama pengunjung yang banyak diantaranya adalah para banker dan lawyer. Karena kebetulan saya mengunjungi Frankfurt di akhir pekan, saya memilih Cocoon Club yang trendy dan populer itu. Ruangannya cukup terbuka dan lega dengan sofa dan bantal nyaman, serta penataan lantai remang-remang dan berbeda-beda ketinggian. Mungkin jalanannya akan terasa membingungkan dalam keadaan mabuk. Sementara racikan musik nonstop dari DJ mencampurkan banyak jenis lagu, saya kira untuk menyenangkan semua pengunjung yang datang untuk menikmati malam. Catatan saya adalah, porsi makanan yang disajikan di sini ternyata kecil. Di The Cocoons anda bisa menyendiri dari kerumunan pengunjung dan memilih jenis musik sendiri, hingga layanan langsung ke meja anda. Tentu saja ini berlaku hanya di bagian VIP.

Sistem transportasi yang baik juga menjadi keunggulan Frankfurt yang patut dipertimbangkan. Dari Frankfurt kita bisa mengunjungi kota–kota lain di Jerman maupun Eropa dalam satu perjalanan kereta. Bahkan Berlin dapat ditempuh hanya dengan 4 jam perjalanan kereta langsung. Sebelum meninggalkan Frankfurt menuju Berlin, saya menyempatkan diri berkeliling di Mainz, kota kecil satu jam perjalanan jauhnya dari Frankfurt.

Tips Praktis dari Frankfurt
1. Cukup aman berada di dalam area stasiun kereta utama di Frankfurt, Hauptbahnhof. Polisi cukup banyak terlihat. Saran banyak diberikan untuk menghindari area di luar stasiun, terutama bila malam telah tiba. Selain itu berdandanlah sewajarnya, tanpa membuat orang menaruh perhatian pada barang-barang anda. Berwaspada lebih baik, bukan?
2. Berhati-hatilah terhadap polisi palsu, misalnya di daerah Zeil. Kadang-kadang ada orang akan menanyakan passport dan keaslian uang anda. Hindari saja. Polisi asli tak akan menanyai passport, apalagi memastikan keaslian uang anda. Sebaiknya tinggalkan passport asli di hotel, dan hanya membawa copy-nya selama berjalan-jalan.
3. Membeli Eurail Pass atau paket tiket perjalanan dengan kereta prabayar, khusus untuk pengunjung dari luar Eropa, memang menyamankan. Tetapi biasanya hanya paket tiket kelas 1 yang tersedia. Anda bisa memperolehnya di agen perjalanan terdekat. Prakteknya, lebih murah untuk membeli tiket perjalanan di tempat. Anda bisa membeli tiket kelas dua, yang masih tetap nyaman dan dijamin bersih.
4. Liburkan high heels anda, dan gunakan sepatu jalan atau sandal yang nyaman. Ingat, banyak jalanan tua di kota-kota Eropa tersusun dari bebatuan yang cukup terjal.
5. Untuk kenyamanan perjalanan anda, bawalah payung lipat. Cuaca Frankfurt yang tak menentu kadang-kadang memaksa kita untuk menggunakan payung.
6. Peraturan di Jerman mewajibkan kegiatan usaha pada umumnya untuk libur di hari Minggu. Kecuali, penjaja makanan dan restauran. Selebihnya, anda tak bisa membeli apapun pada hari Minggu. Jadi, bersiap-siaplah untuk berbelanja sebelum hari Minggu.
Continue >>

Wednesday, July 30, 2008

Chit-Chat


Embel-embel sponsor rokok untuk konser Alicia Keys di Jakarta disingkirkan. Demi campaign for Tobacco-Free Kids, meminimalisir kebiasaan merokok generasi muda.
• Apakah Indonesia mau segera berbenah dan bersinergi untuk bisa bersaing, paling tidak dengan Singapura? Adhi KSP mengingatkan kata sinergi pada Indonesia, saat mencermati Jakarta Great Sale 2008.
Empat dari sepuluh bayi yang lahir tahun lalu di Belanda merupakan anak dari orang tua yang tidak menikah. Jumlah ini adalah dua kali lebih banyak dari sepuluh tahun lalu. Begitu data yang dilansir biro pusat statistik Belanda.
Semua maskapai penerbangan Indonesia dinilai belum bisa memperbaiki standar keamanan. Dengar pakar penerbangan Tom Ballantyne di sini. Walaupun dianggap tidak merugikan (dari segi penurunan pemasukan), larangan ini tetap merupakan pukulan keras untuk citra dunia wisata Indonesia di mata internasional. National awakening to survive and to introspect, don't you think?

{Photo via WENN} Continue >>

Wednesday, July 02, 2008

Toilets at Soekarno-Hatta airport poor: Survey

Salut untuk YLKI! Biasanya kita hanya bisa memendam keluhan, atau paling pol nulis di kolom surat pembaca, tentang joroknya toilet airport. Kini mereka malah bisa menggugat untuk memperbaiki citra bangsa. Ingin rasanya membandingkan dengan bandara Svarnabhumi Thailand, misalnya.

Katanya, "Many toilet users still do not know how to use the toilets correctly. We need to educate them." Bayangkan, hewan peliharaan seperti anjing saja bisa dilatih. Apakah benar pengguna jasa penerbangan atau pengguna bandara benar-benar sama sekali belum bisa menggunakan, atau (dengan kata lain yang lebih sadis,) tak mengenal aturan penggunaan toilet yang sewajarnya? Perlu materi kurikulum baru, kali ya?) Continue >>

Mengunjungi Museum

Kunjungan ke tempat bersejarah rupanya sedang kembali digalakkan. Setidaknya ada usaha ke sana yang terbaca di Kompas. Meski tidak mahal, kunjungan ke museum katakanlah, bukan merupakan kegiatan populer masyarakat umum. Tetapi untuk keseimbangan hidup, dan mengapresiasi perjalanan kehidupan pendahulu toh boleh juga. Bukankah banyak di antara kita sangat menikmati kunjungan ke tempat-tempat wisata bersejarah di luar negeri? Tetapi yang agak mengherankan, tak jarang yang mengaku tidak menikmati kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Indonesia.

Photobucket
{Grand Palace di Bangkok}

Saat mengajak kawan dari Banyuwangi mengunjungi Museum Sejarah Jakarta atau juga disebut Museum Fatahillah, Sabtu belum lama berselang, ada beberapa pengunjung yang tampak melihat-lihat di koridor museum. Dua hingga tiga keluarga dengan anak-anak, dua kelompok siswa SD (mungkin kelas tiga atau empat, karena secara physical masih kecil tetapi sudah sibuk mencatat ini dan itu) dengan guru-guru pendamping. Di pelataran Fatahillah tampak lebih banyak kerumunan. Ada gerombolan photographer yang memencar ke beberapa sudut, lalu juga sejumlah siswa kursus yang sedang praktek menggambar berlembar-lembar (bahkan hingga 50 gambar) di pelataran Cafe Batavia. Sementara di lorong jalan sebelah Museum Wayang, dan di depan bangunan bekas Cafe tampak digunakan beberapa pasangan untuk berfoto.

Kunjungan ke tempat bersejarah buat sebagian orang memang bukan hal yang ringan dan gampang dinikmati. Itu pula sebabnya saya cenderung kurang setuju bila murid-murid harus dicekoki dengan detil data-data sejarah, dihantui keharusan menghafal dll. Bukankah essensinya adalah anak memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam suatu hal? Sehingga ketika dewasa kelak, anak bisa meneladani kepatriotan sang pahlawan misalnya. Mengakulah, apa yang anda ingat dari kepahlawanan Diponegoro? Beberapa dari anda mungkin akan mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ingat, tapi buat beberapa siswa, dengan gampang akan menyebutkan tanggal kelahiran atau wafatnya Jenderal Sudirman. Maksudnya, mana yang lebih penting: hafal detil data sejarah (jelas biar dapet nilai ulangan bagus dong!), atau mengerti dan memahami nilai-nilai kepahlawanan yang sesungguhnya? Itu sebabnya, (hikmah fajarnya nih) mari ajak dan biarkan orang-orang menikmati museum (atau tempat bersejarah manapun) tanpa harus punya beban.

• Meski bukan anggota komunitas atau pemerhati sejarah, saya cukup menikmati kunjungan di tempat bersejarah. Yang dilakukan di sana tentu saja melihat-lihat koleksi-koleksi yang disajikan. Antara lain dengan menghargai keunikan, memperhatikan fungsi-fungsinya, membayangkan kehidupan di masa lalu, serta merefleksikan ke masa sekarang. Sayang, kadang-kadang benda-benda tersebut tidak diberi keterangan, atau keterangannya hilang/rusak. Tak jarang juga dijumpai, koleksi yang begitu berdebu, bahkan kaca etalage tampak kusam. Dalam kunjungan ke Museum Keramik, malah sempat saya menyaksikan petugas yang membersihkan, tapi asal-asalan (lahhh yang penting masih dibersihin 'kan ya?).

• Dalam kunjungan wisata seperti ini saya juga memotret beberapa koleksi yang unik, bila memang tidak dilarang. Bentuk arsitektur bangunan juga menarik untuk difoto. Selain itu mengabadikan teman-teman yang turut serta. Anda maklum 'kan, menyaksikan orang-orang berfoto dengan aneka gaya di tempat-tempat seperti ini?

Photobucket
{Koleksi di Museum Nasional (Museum Gajah), berupa gagang cermin berukir dengan motif Hindu}

• Biasanya kalau sempat, sebelum melakukan kunjungan, saya akan membaca-baca atau mencari informasi tentang hal-hal yang akan dikunjungi. Harapannya adalah bisa tahu hal mana yang perlu diberi perhatian lebih atau jangan sampai terlewatkan. Betul, sayangnya kadang-kadang website khusus mereka tidak memberikan informasi yang lengkap dan memadahi.

• Kalau sudah begitu, biasanya guide jadi pilihan. Tapi biasanya tergantung kesepakatan rombongan. Bukan rahasia lagi kalau guide atau pemandu wisata sering tidak dipedulikan oleh rombongan orang Indonesia. Padahal memakai jasa guide itu memerlukan biaya tambahan yang tidak sedikit. Bandingkan dengan harga karcis masuk yang hanya Rp 2ribu, dengan tips guide katakanlah sekitar Rp 30ribu.

• Untuk melengkapi kunjungan, sempatkan melongok toko cenderamata terdekat atau tempat jajanan yang menjual penganan dengan tema yang sama. Anda tidak diwajibkan membeli sesuatu di sini. Tetapi setidaknya, di sini akan memberi gambaran umum, kenangan apa yang biasa dimiliki atau diingini pengunjung. Continue >>

Friday, June 27, 2008

Dino Disappointment

Ingin mengetahui secara lebih dekat mahkluk raksasa dinosaurus yang pernah tampil di film trilogi Jurassic Park? Anda tak perlu bingung mencarinya. Soalnya, 31 dinosaurus Jurassic Park yang didatangkan langsung dari Universal Studios di Amerika Serikat (8 dari Jepang) itu singgah ke Indonesia. Robot-robot raksasa yang telah punah itu hadir di Plaza Tenggara Senayan mulai 21 Juni hingga 20 Juli mendatang.

Photobucket

Namun sebaiknya jangan terlalu berharap banyak dari Dino Summer Holiday. Ketika berkunjung hari Minggu lalu, saya menyayangkan beberapa detil penyelenggaraan (mari tak perlu sungkan berdalih, manusia tiada yang sempurna). Beberapa hal tersebut antara lain adalah: penataan di lokasi dino yang kurang rapi dan pencahayaan yang bisa lebih baik. Detil AC yang kokoh mencuri perhatian, perangkat mekanik yang mnyertai robot juga kurang indah tersamarkan. Harapan untuk mendapati suasana masa lalu yang gelap dramatis jadi agak terganggu. Apalagi ditunjang para presenter yang terasa kurang berkarakter dan luwes dalam memperkenalkan dino-dino itu. Heran, apakah tidak ada standarisasi penyajian, atau hanya saya yang berharap berlebihan?

Photobucket

Lalu penjagaan kebersihan di lokasi, terutama di area makan (bo, please deh, sampah is everywhere!). Walaupun ini juga berkenaan dengan mental para pengunjung yang membuang sampah sembarangan, tapi ada baiknya ini diantisipasi sejak awal. Entah kenapa saya juga merasa penataan booth dari pintu masuk menuju lokasi kandang dino juga terlalu jarang, sehingga kesannya kosong. Akibatnya (akibat?), floor covering carpet-nya jadi terlihat dikerjakan asal. Ketidak siapan lain adalah Simulator Dino juga belom beroperasi, karena dalam tempelan tulisan-tangan dinyatakan belum siap (mungkinkah ini harus dimaklumi, karena saya mengunjungi di hari kedua, pada tanggal 22/6?).

Beberapa detil lain yang juga patut dipertimbangkan sebelum mengajak putra-putri tercinta mungkin bisa dilihat di sini. Bila tanpa rabat, harga karcis masuk adalah Rp 150ribu. Bagaimanapun, setidaknya anak-anak punya pilihan acara liburan, dan Jakarta kita semakin 'hidup'.

•Terima kasih foto-fotonya, Yunus. Continue >>

Mall Holiday ‘08

Time of the year to host relatives arriving from Kampung! School holiday festivities is in in the capital. Going to the next grade or not, it is time for most children to have fun (on their own way). Some parents showing their relieve-faces for knowing that school these days is not mentioning ranking in the students report. No secret that student’s achievement is parent’s pride.

So, many choices to visit this time, include shopping malls have their holiday program: Marvel’s heroes characters conquering Grand Indonesia (plus the NewYork NewYork hourly show!), Japanese Doraemon showcasing in Plaza Semanggi, giant Panda Po of Kungfu Panda (looks so real!) does Mal Ciputra Jakarta, etc. Pretty impressive work of artistic teams out there. Should you interested to visit and have some poses with your cam-phone, it turned out to be a trend. “So ordinary people style,” remember San Chai. It’s cheap, though you will spend some for meals or coffees. Indeed it is so Jakarta, that you don’t have to break your belief for not to be exposed under the sun.

Photobucket

While you're at the mall, why don’t you watch a movie? My recommendation for the kids are: Kung Fu Panda and Incredible Hulk of course. You wouldn't think Dewi Persik suit to their need, right? And for you, err … Sex and the City? I think so, you will love Carrie even better in her Vivienne Westwood. For sure it means to treat your eyes and soul. Oh well, at least I do. It is a feels good hollywood movie.

Photobucket Continue >>
hit tracker
hit tracker