So world, we have the result for Indonesian Idol 2008. As many predicted since the first day audition, well ... audition screening to be precise for us spectators, Januarisman Runtuwene is The Idol 2008. You might heard that he was a 'street singer', and gain the rough but powerful vocal character thru singing in the regional train (KRL). Right before the winning moment on the result's show (Saturday evening), his mother wished him to be humble and to keep on praying, as her mother notice that he was forgotten that. While on his personal gratitude he thanks his wife and daughter for support.
He has the vocal to be admitted. But some are complaining that he has no attitude, even gratitude. It turned out when he visited several media socializing and promoting the event. He was not respecting people, and so difficult to manage. Even some of his supporters do not like his overall look. One of the consideration is that he will also perform in the coming Asian Idol, where vocal is not the first to be judged. Perhaps as he win the game, several grooming session and treatment to shape him up will follow. Will he also be equipped and improved with the winner personal character? Hopefully. Life will never be the same for him. Kudos, Aris!
{A clip from the third performance on final, this is the same song that could made Titi DJ, the jury, to drop some tears on his audition. More of his performances to download, here}
Continue >>
Showing posts with label Tivo. Show all posts
Showing posts with label Tivo. Show all posts
Sunday, August 03, 2008
Thursday, July 10, 2008
Anak-anak Asuhan Televisi
{Obama menyesal telah membiarkan anaknya sekilas tampil di layar kaca. Via Anderson Cooper 360°.}
Terlepas dari pro dan kontra pendapat orang tentang kabar Obama, penampilan anak-anak memang sanggup mengundang simpati pemirsa. Anak-anak adalah cerminan nyata atau etalage dari kehidupan keluarganya. Jujur saja, biasanya mereka belum banyak bisa dilatih untuk ber-acting di hadapan orang lain.
Orang tua pada umumnya mungkin akan gembira mendapati anaknya tampil di layar kaca. Apalagi kalau karena prestasi anak. Yang justru membuat gemes adalah, mengapa justru anak-anak dibiarkan tampil bukan sebagai pribadinya? Pertanyaan ini muncul saat menyaksikan Idola Cilik di RCTI, dan acara-acara anak lainnya. Antara lain terlihat melalui dandanan yang dikarbit menjadi dewasa, nyanyian yang berkategori 17 tahun ke atas, tingkah dan gaya yang - mungkin anda juga sependapat - tidak lagi seperti anak anak yang polos (walaupun ada juga memang yang tingkah lakunya masih lucu, beberapa). Untuk menyamakan persepsi, saya mengacu kepada tampilan Tasya misalnya, dengan lagu Libur T'lah Tiba. Tampilan ceria, natural, dan lagu yang 'sesuai'.
Mereka yang beruntung tampil, bisa jadi adalah anak-anak biasa yang sebenarnya juga tak berharap bisa 'muncul'. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang menyaksikan tayangan anak, dan kemudian cenderung belajar mengadaptasi gaya dan semua yang disiarkan di televisi? Anda setuju 'kan, bagaimanapun, media seperti telvisi memiliki pengaruh yang cukup kuat? Beruntung kalau orang tua masih memedulikan pertumbuhan kepribadian, perkembangan karakter anak dll, dan masih tetap mendampingi anak. Memang, tampil di depan umum juga memupuk rasa percaya diri anak. Tapi kalau tidak, bagaimanakah pengaruh dalam perkembangan mental kepribadian anak? Yang perlu diwaspadai, ada saja orang tua yang (sadar atau tidak sadar) menitipkan keinginan pribadi pada anaknya untuk tampil, menjadi terkenal. Ambisi ini yang kadang bisa jadi bumerang pertumbuhan kepribadian anak yang terpacu (baca: dikarbit).
Seingat saya, masa kanak-kanak tidak datang dua kali. Dan di masa inilah kepribadian anak dibentuk, menjadi suatu pondasi untuk kehidupan di masa dewasa kelak. Kenyataannya banyak orang tua yang sibuk bekerja (bahkan kedua orang tua bekerja). Giliran mbak, suster, atau siapa saja yang bisa dititiplah, yang akan mendampingi tumbuh kembang anak. Lebih parah lagi, uuntuk memudahkan pengawasan, anak diajak untuk menyaksikan siaran televisi. Mungkin berlebihan kalau generasi berikutnya disebut sebagai anak-anak asuhan televisi.
Dampak positif tentu ada, dan tidak dibahas kali ini. Tetapi, apakah anda orang tua, produser acara, penyelenggara siaran televisi, dan siapapun yang berkepentingan dengan masa depan bangsa, sadar akan kemungkinan negatif hal ini? Kalau keuntungan finacial dan popularitas mungkin menjadi pertimbangan utama, saya tidak bisa membayangkan bagaimana gaya hidup generasi selanjutnya.
Bisa saja saya tidak memedulikan hal ini, dan mengganti saluran televisi dengan acara lain. Tapi setidaknya, saya menyuarakan keprihatinan ini untuk menyambut hari anak-anak nasional, pada tanggal 23 Juli nanti. Continue >>
Sunday, June 29, 2008
Generasi Penerus Si Unyil
Berkunjung ke rumah kreatif biasanya mengundang kekaguman tersendiri. Seperti misalnya Kamis kemarin saat mengunjungi studio produksi The Happy Holy Kids (HHK), di kawasan BSD. Di sini diproduksi acara hiburan anak-anak yang ditayangkan di hampir seluruh TV lokal di Indonesia berjudul The Happy Holy Kids. Mengutip direktur HHK, Ir Jarot Wijanarko, "Diharapkan program tayangan ini bisa menjawab kebutuhan tayangan anak-anak yang menghibur dan mendidik. Kita ingin memiliki generasi yang cerdas, ceria, dan berakhlak."
Mereka menulis cerita, membuat tayangan panggung boneka, dan mengerjakan lagu-lagu penyerta sendiri. Setidaknya 100 episode sudah dihasilkan. Acungan jempol pantas diberikan, mengingat ini merupakan kebangkitan kusuma bangsa untuk tak hanya memrotes tayangan TV yang banyak dianggap tidak mendidik. Inilah produksi lokal kedua, setelah Si Unyil, yang harus berani bersaing dengan antara lain American's Sesame Street yang juga tayang di Indonesia.
Di studio ini bisa disaksikan pengerjaan material pendukung tayangan, seperti panggung berbahan styrofoam yang dicat dengan warna-warna ceria, juga pengerjaan program televisinya. Panggung dibuat dengan beberapa baris untuk memberi ruang bagi talent untuk lalu lalang memeragakan aksi para boneka. Mereka mencampurkan warnanya sendiri dari tiga warna primer dan menghasilkan paduan warna dan terapan gradasinya untuk memberi kesan semakin hidup.


Sekadar informasi, setiap hari Selasa mereka menerima kunjungan murid-murid sekolah. Murid-murid cilik ini diajak bernyanyi dan mendengar cerita-cerita, dan bahkan dilibatkan dalam rekaman tayangan panggung bonekanya. Silakan hubungi mereka untuk penjadwalan kunjungan murid-murid anda. Continue >>
Mereka menulis cerita, membuat tayangan panggung boneka, dan mengerjakan lagu-lagu penyerta sendiri. Setidaknya 100 episode sudah dihasilkan. Acungan jempol pantas diberikan, mengingat ini merupakan kebangkitan kusuma bangsa untuk tak hanya memrotes tayangan TV yang banyak dianggap tidak mendidik. Inilah produksi lokal kedua, setelah Si Unyil, yang harus berani bersaing dengan antara lain American's Sesame Street yang juga tayang di Indonesia.
Di studio ini bisa disaksikan pengerjaan material pendukung tayangan, seperti panggung berbahan styrofoam yang dicat dengan warna-warna ceria, juga pengerjaan program televisinya. Panggung dibuat dengan beberapa baris untuk memberi ruang bagi talent untuk lalu lalang memeragakan aksi para boneka. Mereka mencampurkan warnanya sendiri dari tiga warna primer dan menghasilkan paduan warna dan terapan gradasinya untuk memberi kesan semakin hidup.
Sekadar informasi, setiap hari Selasa mereka menerima kunjungan murid-murid sekolah. Murid-murid cilik ini diajak bernyanyi dan mendengar cerita-cerita, dan bahkan dilibatkan dalam rekaman tayangan panggung bonekanya. Silakan hubungi mereka untuk penjadwalan kunjungan murid-murid anda. Continue >>
Subscribe to:
Posts (Atom)