Liven up your home by applying this individual, distinctive and unique Lotus Arts de Vivre products. What do you think? Last October, Niklas Von Bueren himself was coming to town, to promote this instantly recognizable and collectible products, at Grand Hyatt Jakarta.
Lotus Arts de Vivre specializes in exclusively designed, handcrafted luxury jewelry, accessories and home decoration products. Their style is blending far east asian art with modernized function and sensibility. Said, the products are individual, distinctive and unique.
Lotus Arts de Vivre has signature stores in Thailand, Singapore, and Cambodia. Their representatives based in Hong Kong, Japan, UK, and USA. Should you interested more, check out their site.
Jika ada pekerjaan yang paling cocok bagi para wanita di dunia ini, selain bakat alami menjadi ibu, saya yakin itu adalah menjadi detektif.
Sejak beredarnya buku karya John Gray dulu, Men Are from Mars, Women Are from Venus, saya memang belajar memahami, bahwa wanita dan pria itu memang berbeda. Bukan karena saya ingin memahami wanita, lebih tepatnya saya membaca karena disodori buku itu oleh kawan wanita yang ingin lebih saya pahami. Walaupun sejak di bangku sekolah saya sudah learning by doing untuk berhubungan dengan kaum Hawa, tapi sebenarnya saya tak terlalu memahaminya. Terbukti saya tidak sendirian dalam hal ini. Karena bahkan hingga saat ini, tak jarang kawan saya yang sudah menikah pun mengakui bahwa mereka justru masih meraba-raba untuk bisa mengenali pasangan yang telah beberapa saat dinikahinya secara resmi (pun yang tak resmi). Tidak, saya tidak sedang membahas tentang (hanya) badani, tetapi lebih memahami keinginannya. Antara lain untuk mengerti kemauan dan keinginannya tanpa wanita harus mengatakan sesuatu.
Saat berbincang-bindang dengan kawan yang lain, cerita justru makin berkembang. Rupanya, beberapa kawan pria beranggapan menyerahkan diri dalam pernikahan adalah bentuk komitmen pada cinta, sementara wanita memaknai pernikahan dengan memulai ‘kepemilikan’ atas pria, segera setelah tali pernikahan diikat. Bila dalam pergaulan wanita banyak mau tahu tentang banyak hal, pernikahan justru meneguhkan sikap wanita untuk memiliki pria sepenuhnya. Seolah-olah, pernikahan melegalkan wanita untuk bertanya apa saja dan sedetil-detilnya pada pasangannya. Kalau perlu, right here, right now.
Sebenarnya memng sah-sah saja, apalagi sebagai pasangan baru. Menjelaskan detil harian memang menyenangkan, saat perkenalan. Pasalnya, karena cinta yang mulai tumbuh, kami kaum pria ingin membawa Anda pasangan baru kami, untuk mengenali kami yang sesungguhnya, dunia kami. Tetapi sayangnya kemudian, tidak jarang pria justru jadi merasa terganggu. Bayangkan saja, setiap saat ditanya tentang dimana, sedang apa, dengan siapa dan selanjutnya. Anda mungkin geli menyaksikan tayangan betapa posesifnya wanita dalam iklan suatu produk rokok, tapi itulah gambaran pandangan kami terhadap ‘Venus attack.’ Walaupun banyak wanita megatasnamakan cinta dan semangat saling berbagi, pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar bagai pasung maupun rantai yang makin erat mencengkeram pergelangan kaki kami. Kalau sudah demikian saya sendiri pun bingung, apa bedanya dengan saat masih kanak-knak dulu harus menjawab hal yang sama pada ibu saya.
Parahnya lagi, beberapa wanita (atau mungkin rata-rata wanita) bisa jadi detektif! Saya pikir saya tidak berlebihan. Contoh sederhananya begini. Saya bukan celebrities yang setiap gerak-geriknya bisa disaksikan melalui layar kaca. Tetapi, suatu saat saya yang berkantor di bagian Utara Jakarta, mendapat kiriman obat atau jamu tolak angin dari kawan wanita yang bekerja di Selatan Jakarta. Cukup mengejutkan mengingat waktu itu hubungan kami tidak sedang ‘dekat’, dan waktu itu kondisi badan memang tidak sedang fit, karena kerjaan yang menumpuk. Tambah lagi, kawan sekantor saya tidak ada yang kenal dia. Mengagumkan bukan? Hingga kini, bagian ini masih terasa sebagai missing link. Tapi sejujurnya, saya tidak peduli.
Sementara kawan pria lain banyak mengeluh kegerahan, karena merasa tidak dipercayai, dan dimata-matai bagai agen rahasia negara. Saya maklum, karena ada saja pria yang ingin nakal atau iseng sedikit. Beberapa kawan wanita mengaku mendengar cerita-cerita kenakalan suami teman sekantor atau melihat perilaku kawan pria di kantor yang menurut mereka terasa mendebarkan. Wajar bila Anda atau kawan wanita jadi mencemaskan hubungan Anda memang. Tapi bukankah semua hal di muka bumi ini beresiko?
***
Sebenarnya, wanita juga paham, bahwa pria itu beda dari wanita. Bahwa pria tak banyak mengungkapkan detail karena memang pada dasarnya kaum pria tak memperhatikan hal-hal detail. Buku, majalah, berbagai acara televisi dan radio pun tak jarang membahas topik ini. Tapi toh, banyak wanita tetap menuntut pria untuk lebih ‘banyak bicara’. Memang ada saja hal-hal detail yang bisa mengundang perhatian pria, selain kemolekan wanita yang melintas di depan para pria, baik yang berhidung belang maupun berhidung polos. Tapi sejujurnya, Anda para wanita juga tahu ‘kan, bahwa kami tidak bercerita bukan karena kami ingin menutupi sesuatu, atau membohongi Anda (meskipun ada juga beberapa pria yang begitu, memang).
Saya suka bergaul dan bercanda dengan siapa saja. Tetapi tetap saja saya merasa tidak terlalu menikmati untuk menceritakan kejadian demi kejadian dengan detil dan runtut layaknya laporan rekonstruksi serial kriminal mutilasi. Apalagi untuk kejadian sehari-hari yang biasa sekali. Sementara kawan-kawan wanita acapkali bertanya dan semakin gemar memancing untuk mengorek cerita sehari hari dengan sedetil-detilnya. Lebih parah lagi, bila kawan wanita ini mendapat angin dianggap sebagai ‘kawan istimewa’, maka seolah-olah dia mendapat hak untuk semakin ketat menginterogasi. Kawan saya lainnya menceritakan, Ia benar-benar dicurigai calon istrinya dan terancam batal menikah gara-gara ia makan siang tidak di foodcourt mall sebelah kantor seprti biasanya, dan tidak dengan kawan-kawan yang biasanya. Ironis mengetahui kaum wanita ‘seolah-olah’ menginginkan pasangan prianya adalah pria yang teratur dan membosankan, atau hidup dalam rutinitas membosankan. Begitu ‘kan?
Waktu saya menceritakan tentang pemberontakan saya terhadap bos wanita baru di kantor, dia bahkan tak hanya ingin mengetahui duduk permasalahannya, tapi juga detail reaksi orang seruangan, dan orang sekantor. Saya membayangkan, mungkin untuk memuaskannya, saya perlu menanam cctv di jidat saya. Atau jangan-jangan, wanita ditakdirkan untuk jadi pekerja infotainment? Berlebihan mungkin, karena wanita toh akan mengeluh kelelahan. Dan bukankah sebenarnya wanita justru ingin diperhatikan? Alih-alih ingin memuaskan dengan jawaban yang lengkap bin rinci, beberapa wanita justru berbalik menilai sang pria menutup-nutupi sesuatu dengan jawaban yang terdengar sempurna. Bila saya cenderung menyudahi pertengkaran dengan rayuan, atau janji manis, maka kawan saya akan kembali mempertanyakan intonasi suara yang menurut dia terdengar gampang dan tak bersungguh-sungguh. Celaka kawan pria lain, yang berjanji dalam suatu dinner romantis tetapi justru dianggap istrinya baru saja berbuat ‘perselingkuhan fatal’. Alamak susahnya!
Ya kami maklum, dalam hubungan sebelumnya beberapa wanita, atau Anda mungkin, punya pengalaman yang kurang menyenangkan. Tetapi percayalah, tidak semua laki-laki seperti itu. Atau, demi untuk memahami seribu satu keinginan yang menurut para wanita ‘sederhana’, haruskah saya dan banyak pria lain berguru ke Ki Joko Bodo, atau belajar jadi paranormal?Continue >>
Just another fun while the world waits for the result to be revealed. Who will be the president? Not Paris for sure. Otherwise the world would turn pink(ish).
But first things first. "Now if you'll excuse me, I have to pick out a vice- president... I'm thinking [the singer-songwriter] Rihanna." Only then does she sign off. "I'll see you at the White House. Oh, and I might paint it pink. I hope that's cool with you guys."
“Bazaar Fashion Concerto 2008” was held in Plenary Hall – Jakarta Convention Centre last Thursday (23 October 2008), to commemorate the Indonesian legendary singer Chrisye. It is a biannual event of Harper’s Bazaar Indonesia magazine; this year's event theme was “Tanah Air” (motherland, local term literally translated as earth - water), as an appreciation of Indonesian artists especially in fashion and music. Designers contributing to the shows are Adrian Gan, Didi Budiardjo, Norman Ang, and Rinaldy A. Yunardi. Glenn Fredly, Lea Simanjuntak, Waljinah dan Gita Gutawa were accompanied by Erwin Gutawa Orchestra performing Chrisye’s golden hits in orchestral arrangements. And Jay Subijakto creatively directed the show.
{Glen Fredly, Lea Simanjuntak, Waljinah, and Gita Gutawa}
It is quite a blend of show between fashion and music, with some accentuation of singer’s characters that successfully hypnotizing audience. If you happened to know Waljinah (how I love her!), she was performing the song Semusim in her very own Javanese traditional singing style in orchestra. Glen Fredly, Gita Gutawa, and Lea Simanjuntak were also grabbing big applause to deliver Chrisye’s hits in their style.
Fashion shows was, I better let you have your own idea by seeing some of the shots below. It is indeed a show of exploration of Indonesian culture in theme. Designer Norman Ang (related to Heliopolis) was bringing the series of Indonesian cultural heritage entitled as Mahardika Imajinasi Ekspresi (expression imagination freedom). It was sown in an ancient Indonesian royal parade style.
{Kelana Apo Kayan, from Didi Budiarjo}
The romantic gown designer Didi Budiarjo was lively interpreting the theme Kelana Apo Kayan as a series of adventures of Dayak’s material and colors (Borneo’s local tribe). It was indeed a series of casual, elegant, and colorful gowns, which to my simple opinion as a futuristic modern Indonesian culture based gowns. Definitely having Indonesian flavors.
Cakra Manggilingan is the theme of Rinaldy A Yunardi’s collection performing drama of life. He explored materials, like peacock’s feather etc. and creating body size iconic symbols. To mention his series as a show is quite an understatement. Unfortunately I could not show you much better pictures, my excuse.
And so with Adrian Gan that was presenting a collection called Lembayung Nusantara. You would found the daily Indonesia in his gowns collection.Continue >>
Many of you might have chances to learn other foreign language. Spanish, French, Dutch, Deutch, Mandarin, Yiddish, ... Those who commuting between countries, having a regular contact with foreigner, I believe, will have a self motivation to learn the related foreign language(s). It takes not only time, but also dedication to learn. And said, having a clear idea of why we are learning a language can help to motivate us in our studies.
English is (almost) always useful, but probably you will found out that speaking English doesn't mean everything. In meetings for example, the people on the other side can discuss things amongst themselves in their own language without the English speakers understanding, and using interpreters slows everything down. In any socializing after the meetings, the locals will probably feel more comfortable using their own language rather than English.
{Found in Youtube a funny 'play' of Australian students in Bahasa. I just realize that the word aduh and asik could be something 'matter' too. Haha.}
Thanks to technology called internet, and globalization, nowadays we could easily pick up some new understanding of other languages. Practical tips to learn the language, how to's, vocabulary & materials, translation service offers, and even reasons on learning other languages are abundantly available to be use.
Although learning resources available both online and at many learning centrals, lack of confidence in practicing the language could hold you back from not speaking out loud the new language. If you are learning any foreign language now, keep on practicing though, and do not mind others laughing on you, I would suggest. And don't let yourself entrapped in an instant-translation-software, available online or in your gadget. Once I have been dealing with a Chinese from Taiwan that does not speaks English or Bahasa, and I do not speaks any Chinese languages. Can you imagine, it was very frustrating hours of meeting, exchanging instant-translated-messages? You bet! Glad, there was something called 'body language' that could be very useful. I was unable to talk deeper, until I met someone else to interpret.
You know, if we do not want to learn the language, we won’t. If we do want to learn the language, take control. Choose content of interest, that we want to listen to and read. Seek out the words and phrases that we need to understand our listening and reading. Do not wait for someone else to show us the language, nor to tell what to do. Discover the language by ourself, like a child growing up. Talk when you feel like it. Write when you feel like it. A teacher cannot teach us to become fluent, but we can learn to become fluent if we want to.
Relax and enjoy yourself! That's what I believe. I myself still learn and keep on learning by listening to foreign language radios, and sometimes read foreign books. And well, do not worry about what we cannot remember, or cannot yet understand, or cannot yet say. It does not matter. We are learning and improving. The language will gradually become clearer in our brain, but this will happen on a schedule that we cannot control. So sit back and enjoy. Just make sure that we spend enough time with the language. That is the greatest guarantee of success.
Anda suka nonton film-film festival? Atau, Anda ingin nonton film-film yang gayanya 'beda dari Hollywood'? Sekarang waktunya untuk Europe On Screen 2008! Seperti tahun lalu, paling nggak, di festival ini kita bisa dapat referensi budaya Eropa dengan konflik-konfliknya. Festival Film Eropa (Europe on Screen/EOS) digelar kembali untuk yang kedelapan kalinya dengan tema City Landscapes and Urban Visions. Enam film pendek terbaik Eropa serta 15 film pendek Indonesia juga turut meramaikan EOS 2008 kali ini. Total pemutaran 34 film pilihan tersebut bersifat gratis! Dan tiketnya dapat diperoleh di masing-masing lokasi 45 menit sebelum acara dimulai.
EOS 2008 akan diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 24-31 Oktober 2008. Pemutarannya akan dilakukan di lima tempat yaitu Istituto Italiano di Cultura, Centre Culturel Français, GoetheHaus, Erasmus Huis, dan khusus acara pembukaan festival di Blitz Megaplex. EOS 2008 juga akan melakukan pemutaran film di 8 kota di luar Jakarta pada tanggal 1 - 22 November 2008 bekerja sama dengan mitra-mitra seperti LIP Yogyakarta, CCCL Surabaya, Alliance Français Denpasar, CCF Bandung, Widya Mitra & Importal Semarang, Rumah Ide Makassar, Europe House Banda Aceh, serta Fotografi USU Medan. Untuk jadwal lengkap, klik di sini. Semua pemutaran/acara bersifat GRATIS. Classification system applies.
Sabtu, 25 Oktober 2008, pkl. 15.00 world premiere MARCHING MENUJU MAUT (INSIDE THE BRANDALS GARAGE), screening akan dihadiri The Brandals. Sabtu, 26 Oktober 2008, pkl.19.30-selesai pemutaran film LOVE, PEACE&Beatbox, screening akan dihadiri German beatbox champion, MANDO. Akan hadir pada pemutaran film yang sama, Kamis, 30 Oktober 2008, 19.30 di GoetheHaus Minggu, 26 Oktober 2008, pkl.19.30-selesai INDONESIAN PREMIERE/SCREENING film CONTROL (sutradara:Anton Corbijn), sebuah film tentang Ian Curtis, vokalis Joy Division. Meraih 2008 BAFTA for writer Matt Greenhalgh, 5 British Independent Film Award 2007, the 2007 Cannes’ Golden Camera Special Mention, and two awards at the 2007 Edinburgh Film Festival for Best British Performance and Best New British Feature. Senin, 27 Oktober 2008, 19.00-selesai Pameran Foto SIBIU dan PRESENTASI FILM Romania di GoetheHaus Selasa, 28 Oktober 2008, pkl.15.00-selesai SPECIAL SCREENING: European Colours: sebuah film tentang sejarah Uni Eropa dengan menghadirkan footage berharga para musisi: ABBA, The Beatles, The Rollingstone, The Clash, Jane Birkin, Serge Gainsbourg, David Bowie, para pelukis, filsuf, dan pembuat film Eropa. Selasa, 28 Oktober 2008, pkl.19.30-selesai Best European Shorts: pemutaran film-film pendek cutting edge dari Eropa, disertai presentasi dan artist talk dengan sutradara ROSELLA DE VENUTO di Istituto Italiano di Cultura. Rabu, 29 Oktober 2008, pkl.09.30-16.00 MASTERCLASS DIGITAL CINEMATOGRAPHY di Istituto Italiano di Cultura, bersama Panos Bournias (sutradara Yunani), Mark Olsen (Lord of the Ring, New Zealand), Faozan Rizal dan Yudi Datau (Indonesia) Rabu, 29 Oktober 2008: film PARIS (sutradara:Cédric Klapisch, cast: Juliet Binoche etc), Blitz Megaplex. Jumat, 31 Oktober 2008, pkl.16.30 CLOSING/PENUTUPAN FESTIVAL di Erasmus Huis. Continue >>
How this works: Just keep focusing on the dot in the middle of the castle until the end of the video. That's it! Do you know what the illusion is? If you don't get the illusion (and chances are you didn't), watch it again, but this time, without looking at the dot. Get it now? For those who still can't get it, answer click below.
So what was the illusion? The second picture was grey the entire time and your mind just put all those colors there!! Try again!Continue >>
"Sexiness is also about knowing what’s sexy to you. To me, spaghetti is sexy, especially when it’s served off the tips of a man’s fingers. I like that. And I think wine is sexy, just before sex. It relaxes me. But if I want to get a serious groove on — if I want an out-of-body experience — I’m all about the sloe-gin fizz.
I think lingerie is sexy, and I’ll wear it, sure. But truth is, I’m good-to-go in a tank top and bare feet — although every woman should own at least one good pair of pumps. That’s really the only wardrobe you need for sex: a tank top and pumps. ...
When it comes to what I think is sexy about men, I like forearms. That’s my body part. They’re generally exposed, available, a little bit vulnerable. A forearm is different with every man, and when it comes to forearms, size matters. I don’t like them slight.
Ask me what’s the sexiest car in the world and I’ll just say my man’s car, because it smells like him, because his shape is pressed into the seat, because it’s littered with little bits of his life — his golf balls or his chocolate-bar wrappers — and it’s ripe with the smells of him. That’s the car I most want to ride in.
What else? Ah, yes: the big O. You know that stuff they say about a woman being responsible for her own orgasms? That’s all true. And in my case, that makes me responsible for pretty damned good orgasms these days. Much better orgasms than when I was twenty-two. And I wouldn’t let a man control that. Not anymore. Now I’d invite him to participate. I’ll tell you this: I’ve learned my tricks. I know what I like. I do not wait around. I initiate. And I’m not all about frequency. I favor intensity.
There have been some men in my life who have been wickedly sexy and have taught me much about sexual pleasure. There are a few men I should thank, and others I need to forget. But I don’t regret. To hell with regret. I like what I am now. I like being a mother. I like my body better since I became a mother. I feel sexier as a result of becoming a mother.
You see, the years go by and you learn, and that just deepens your understanding of every experience. And then sex is better — it feels like you’re in control, and you’re sort of not in control at the same time, and that is completely satisfying.
So, yes, there are times when I feel like the sexiest woman alive, but would I ever argue that I am the sexiest woman alive? Of course not. I figure at one moment the sexiest woman alive is a waitress in Abilene, Texas. And in the very next second, it’s a woman in the bush of Vanuatu. Then, right away, somewhere else. Sex and sexiness. It’s all about the moment; it’s about what you know as much as it is what you offer. That’s why I share this title with every woman, because every woman is a nominee for it at any moment. Maybe that’s why there are so many women these guys love.
• Paris seeks the advice of the most esteemed fake president of our generation. She responds to that 'wrinkly white-haired guy'. Videonya setelah ini. Continue >>
Welcome aboard to the whatever-talks at the end of the day. Remember wisewords, for we make a living by what we get, but we make a life by what we give, don't we? So let's share. Best regards from Jakarta, and enjoy!